KUKAR – Setelah dua tahun vakum akibat pandemi covid-19, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akhirnya bisa melakukan kembali kegiatan rutin tahunan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) di Kukar.
Pada tahun 2022 ini, Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, terpilih menjadi pusat kegiatan BBGRM yang dilaksanakan pada hari ini, Rabu (25/5/2022).
Berbagai kegiatan dilaksanakan, mulai kegiatan bersih-bersih sampai pameran UMKM dan pameran senjata Mandau khas Kalimantan.
Bupati Kukar, Edi Damansyah menjelaskan, hari ini dirinya bersama-sama dikumpulkan kembali oleh semangat gotong royong setelah kurang lebih selama dua tahun berada dalam masa pandemi Covid-19, dimana ruang gerak untuk melakukan kebersamaan dibatasi oleh Protokol kesehatan yang harus dipatuhi bersama demi menekan tingkat penyebaran virus Covid-19.
Edi juga mengingatkan, apa yang dilakukan ini merupakan bagian dalam kebersamaan membangun Kutai Kartanegara melalui slogan “Betulungan Etam Bisa” sebagai wujud nyata dalam marwah gotong royong dan seperti yang di tuangkan dalam 23 Program Dedikasi RPJMD Kutai Kartanegara yaitu “Program Kukar Bebaya”.
Ia menerangkan, program dedikasi Kukar Idaman, yang ditujukan untuk melepas ego sectoral dan ego kewilayahan dengan memperluas jalinan kerjasama yang saling menguntungkan, agar terbangun suatu pola pembangunan terintegrasi dengan mengutamakan kepentingan rakyat dalam jangka panjang.
“Kekuatan masyarakat Kutai Kartanegara adalah gotong royong dengan Betulungan, karena betulungan merupakan modal sosial. Dimana masyarakat Kutai Kartanegara secara bahu-membahu menyelesaikan berbagai hambatan dan tantangannya ke depan, betulungan bukan hanya jiwa masyarakat Kutai Kartenagara namun juga sekaligus modal sosial dalam menghadapi masa depan,” jelasnya.
Edi juga menjelaskan, Gotong royong harus ditanamkan menjadi jati diri, bukan hanya sebagai kesah semata, sebatas kata-kata, atau bahkan jargon. Oleh karena itu kata dia, gotong royong harus diimplementasikan melalui kebersamaan betulungan dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bekerja sehari-hari.
“Gotong royong harus kita wujudkan dalam sebuah tindakan yang nyata,” tegasnya.
Diakuinya, memang tidak mudah untuk menjalankan semangat gotong royong di tengah-tengah kecenderungan berkehidupan saat ini, yang makin individualistis, dan cenderung kompetitif, dan masih banyak masyarakat yang menyukai kerja masing-masing dibandingkan bekerja bersama-sama.
Salah satunya ungkap Edi, ego wilayah dan ego sektoral lebih menonjol dibandingkan sinergi dan kerjasama. Dari sinilah salah satu cikal bakal munculnya Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga yang lebih kita kenal dengan Program Rp 50 Juta per RT yang salah satu implementasi dari Program Dedikasi Kukar Bebaya.
“Program Pembangunan yang menggerakkan Pemberdayaan Masyarakat di tingkat RT yang di rancang sendiri oleh masyarakat dan di laksanakan oleh masyarakat itu sendiri dengan di antara peruntukan program tersebut berupa membiayai pelaksanaan gotong royong masyarakat setempat,” paparnya.
Edi menuturkan, Bulan Bhakti Gotong Royong merupakan momentum untuk mengingatkan semua warga tentang arti penting gotong royong, terutama betulungan antar sesama, untuk memberi pelajaran kepada generasi penerus yang akan memikul sejarah ke depan, serta perlu menanamkan semangat gotong royong kepada anak-anak, kepada generasi muda kita, sebab merekalah pemuka masa depan.
“Semangat betulungan dalam gotong royong memang harus ditanamkan sejak dini dalam proses pendidikan anak-anak kita. Generasi muda senantiasa bermusyawarah dalam memikirkan dan memutuskan dan betulungan dalam bekerja. Itulah sebabnya semangat gotong royong harus diajarkan melalui kegiatan praktik-praktik yang nyata dan bukan sekedar wacana,” pungkasnya.(adv/kmnfo)
