Usai Dilantik, Pengurus HKTI Tamara Kaltim Siap Eksekusi Sejumlah Program, Satu di Antaranya Sulap Lahan Eks Tambang

SAMARINDA – Pengurus Koperasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tani Makmur Sejahtera (Tamara) Kaltim periode 2022-2027 siap mengeksekusi sejumlah program usai dilantik kepengurusan pada Minggu (27/11/2022).

Ketua HKTI Tamara Kaltim, Rudi Prianto mengatakan sejumlah program tersebut di antaranya mengkonsolidasikan keanggotaan, menginventarisasi sumber daya petani, sebaran hingga komoditas pangan dan lahan sekaligus memfasilitasi kendala lapangan dengan menghadirkan program alternatif.

Untuk keanggotaan HKTI, kata Rudi sudah tersebar di 10 kabupaten dan kota di Kaltim. Tinggal dikonsolidasikan lagi biar makin solid supaya memperkuat solidaritas dan membangun komunikasi strategis dengan pemerintah provinsi, dan kabupaten dan kota.

“Langkah awal kita kosentrasikan di Kutai Barat dulu karena di sana prospeknya bagus. Tapi tetap sejalan dengan kabupaten dan kota lain,” ungkap Rudi kepada awak media di Samarinda, Kamis (1/12/2022).

Selanjutnya, para anggota HKTI akan menginventarisasi sumber daya petani yang tersebar di masing – masing kabupaten dan kota agar ada data yang valid guna mempermudah sasaran program turunan dari pemerintah pusat maupun daerah.

Hal yang sama juga dilakukan pada kegiatan pertanian juga perkebunan serta komoditas pangan unggulan pada masing-masing daerah. Dengan begitu ada gambaran lapangan dari jumlah produksi, ketersediaan komoditas tani hingga lahan pertanian yang prospek untuk dikembangkan ke depan.

“Apalagi Kaltim ini siap jadi ibu kota negara (IKN) baru. Ketersedian pangab harus menunjang. Selama ini Kaltim belum swasembada pangan, masih ambil dari luar kota,” terang Rudi.

Diketahui, program kedaulatan pangan yang digagas Gubernur Kaltim Isran Noor dan Hadi selama hampir 3 berjalan pun belum terealisasi sepenuhnya pasca dihantam pandemi Covid-19. Karena itu, kata Rudi, perlu akselerasi dari semua pihak termasuk HKTI untuk mendorong percepatan pemenuhan pangan secara mandiri di Kaltim.

Kaltim defesit pangan juga diakui Kepala BI KPW Provinsi Kaltim Ricky Perdana Gozali. Ricky mengatakan ketersedian komoditas pangan di Kaltim belum memenuhi kebutuhan konsumsi di Kaltim.

Mirisnya beberapa tahun belakangan justru mengalami penurunan produksi.
Data BPS Kaltim 2021, menunjukan produksi padi 2021 turun menjadi 240 ribu ton dari tahun sebelumnya 262 ribu ton. Penurunan akibat turun luas panen sebesar 4,21 hektar di daerah mayoritas penghasil.

Kemudian, komoditas holtikultura seperti ketimun, Kangkung, dan Terung juga alami penurunan produksi pada 2021, masing-masing sebesar 120,73 ribu kuintal, 119,79 ribu kuintal, dan 106,75 ribu kuintal.

Jika dibandingkan dengan produksi pada 2020 terjadi penurunan. Sementara, cabai besar, jahe dan kunyit alami kenaikan.

Selanjutnya, produksi daging ternak di Kalimantan Timur secara umum mengalami penurunan pada 2021.

Produksi daging sapi turun dari 8,35 juta kg menjadi 7,53 juta kg. Produksi daging kambing turun dari 571,21 ribu kg menjadi 362,37 ribu kg.

Produksi daging babi juga turun dari semula 1,72 juta kg menjadi 1,55 juta kg. Sementara itu, produksi daging unggas agak lebih baik. Produksi daging ayam pedaging naik dari 57,19 juta kg menjadi 58,48 juta kg.

Demikian juga, perikanan tangkap Kaltim pada tahun 2020 menghasilkan tangkapan sebanyak 166,38 ribu ton dengan nilai 5,22 triliun rupiah. Sementara itu pada tahun yang sama perikanan budidaya memberikan hasil sebanyak 160,24 ribu ton dengan nilai 4,72 triliun rupiah.

Manfaatkan lahan eks tambang batu bara

Rudi mengatakan kedepan pihaknya akan menjalin kerjasama dengan perusahaan pertambangan batu bara yang meninggalkan lahan bekas tambangnya untuk dimanfaatkan demi menunjang pertanian di Kaltim.

Model pertanian ini bisa menggunakan konsep yang disebut Integrated Crops land Management (ICLM) atau model pertanian terpadu. “Jadi terintegrasi antara tanaman-ternak,” kata Rudi.

Tanaman yang dibudidayakan di lahan tersebut di antara lain pisang, padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar, nenas dan singkong.

Tentu hal tersebut, lanjut Rudi, akan diintervensi dengan inovasi dan teknologi pertanian spesifik lokasi tersebut.

Lalu didukung pula dengan pemberian pupuk kandang, pupuk kimia hingga pupuk hayati serta penggunaan insektisida ramah lingkungan.

Model ini, kata Rudi, pernah dilakukan di Desa Embalut Kabupaten Kutai Kartanegara, yang dilaksanakan mulai tahun 2012 dan akan berakhir tahun 2014.

Lokasi ini adalah di eks Kawasan Tambang batubara PT Kitadin dan terbukti budidaya tanaman pangan dan hasilnya relatif cukup baik.

“Kementerian LHK pun lagi mengembangkan konsep itu di Kaltim dengan memanfaatkan lahan eks tambang. Jadi sejalan aja,” terang Rudi.

Tak hanya itu, Rudi juga bakal membawa dan mengawal program pertanian dan peternakan dari kementerian terkait untuk para petani di Kaltim. Termasuk memfasilitasi masalah para petani di lapangan untuk disampaikan ke pemerintah pusat juga daerah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *