Para TPK saat ikuti Family Gathering Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di PPU
PENAJAM – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memanfaatkan momentum Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 sebagai ajang penguatan kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam upaya pencegahan stunting.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan Family Gathering tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus pembinaan bagi para kader yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mendampingi keluarga di desa dan kelurahan.
Kepala DP3AP2KB Kabupaten Penajam Paser Utara Jensje Grace Makisurat melalui Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerakan (P4), Andriany Yusnita, menjelaskan bahwa sasaran utama peringatan Harganas tahun ini adalah Tim Pendamping Keluarga (TPK), yang terdiri atas tiga unsur, yakni tenaga kesehatan (mayoritas bidan), kader KB, dan kader PKK.
Menurutnya, TPK memiliki peran penting dalam mendeteksi dan mencegah keluarga yang berisiko mengalami stunting sebelum kondisi tersebut benar-benar terjadi.
“Hari Keluarga Nasional kali ini sasarannya adalah Tim Pendamping Keluarga. Mereka terdiri dari tenaga kesehatan, kader KB, dan kader PKK. Tugas mereka mendata keluarga yang berisiko stunting sehingga dapat dilakukan pencegahan sejak awal. Yang mereka dampingi bukan anak yang sudah stunting, tetapi keluarga yang memiliki risiko agar dapat dicegah lebih dini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa fokus DP3AP2KB PPU berbeda dengan sektor kesehatan. Apabila Dinas Kesehatan menangani anak yang telah mengalami stunting, maka DP3AP2KB lebih menitikberatkan pada pencegahan melalui identifikasi faktor-faktor risiko dalam keluarga.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain pernikahan usia dini, kesiapan kesehatan calon pasangan, hingga kebiasaan merokok di dalam rumah yang dapat meningkatkan risiko stunting pada balita.
“Kalau di kesehatan fokusnya pada anak yang sudah stunting. Di DP3P2KB kami lebih fokus kepada keluarga yang berisiko. Misalnya pasangan yang ingin menikah di usia terlalu muda, kami arahkan agar lebih siap terlebih dahulu. Atau kebiasaan ayah merokok di dalam rumah, itu juga menjadi salah satu faktor risiko yang harus diedukasi,” jelasnya.
Data yang dimiliki DP3AP2KB menunjukkan terdapat sekitar 5 Ribu keluarga berisiko stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara. Namun angka tersebut bukan berarti seluruhnya mengalami stunting, melainkan menjadi sasaran utama program pencegahan melalui pendampingan intensif.
“Namanya keluarga berisiko belum tentu anaknya stunting. Justru karena masih berisiko, kita punya kesempatan untuk mencegah agar tidak sampai terjadi stunting,” katanya.
Saat ini ucap dia, Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki 357 anggota Tim Pendamping Keluarga yang tersebar di 54 desa dan kelurahan. Jumlah tim di setiap wilayah disesuaikan dengan banyaknya jumlah penduduk, sehingga terdapat desa atau kelurahan yang memiliki dua hingga tiga tim pendamping.
Andriany mengatakan keberadaan para kader tersebut sangat strategis karena mereka menjadi ujung tombak dalam mengumpulkan data, memberikan edukasi, serta mendampingi keluarga secara langsung di lapangan.
Selain melakukan pendataan keluarga berisiko, TPK juga aktif menjalankan berbagai program pendukung pencegahan stunting, salah satunya melalui edukasi Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). Program ini mengajarkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah, mudah diperoleh, namun tetap bergizi.
Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman bergizi, seperti daun kelor.
“Kita mengajarkan bahwa memenuhi gizi anak tidak harus mahal. Salah satunya dengan menanam daun kelor di rumah. Tanaman ini mudah dirawat dan memiliki kandungan gizi yang sangat baik untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga,” ujarnya.
Momentum Harganas tahun ini juga menjadi penyelenggaraan perdana yang secara khusus melibatkan seluruh Tim Pendamping Keluarga dalam skala besar. Dirinya berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang dengan cakupan yang lebih luas apabila dukungan anggaran semakin baik.
“Kami mengucapkan Selamat Hari Keluarga Nasional ke-33. Tugas orang tua adalah menyiapkan payung bagi anak-anaknya. Kalau payung itu bocor, bagaimana bisa melindungi mereka? Mari bersama-sama membuka mata, membimbing anak-anak ke jalan yang terbaik agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat, mandiri, dan siap menghadapi masa depan,” pungkasnya. (adv/red)
