Cegah Stunting Sejak Dini, Dokter di PPU Ini Ingatkan Pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan

PENAJAM – Upaya pencegahan stunting menjadi perhatian penting dalam dunia kesehatan karena berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Hal tersebut disampaikan oleh dokter narasumber dalam kegiatan edukasi pencegahan stunting yang digelar Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3P2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara.

Dalam pemaparannya, Dokter Spesialis Anak, dr. Farah Katleya, SpA menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar kondisi anak bertubuh pendek, melainkan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut diukur berdasarkan standar pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni apabila tinggi badan anak berada di bawah minus dua standar deviasi.

“Stunting bukan hanya memengaruhi tinggi badan, tetapi juga berdampak pada kecerdasan, daya tahan tubuh, hingga kualitas hidup anak di masa depan. Karena itu, stunting harus dicegah sedini mungkin,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa masa paling krusial untuk mencegah dampak stunting adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode tersebut, perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga kekurangan gizi dapat menyebabkan gangguan permanen terhadap perkembangan otak.

Menurutnya, anak yang mengalami stunting berisiko memiliki volume otak yang lebih kecil dibandingkan anak dengan pertumbuhan normal. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi, serta prestasi akademik ketika memasuki usia sekolah.

“Jika gangguan gizi terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, perkembangan otak tidak bisa diperbaiki sepenuhnya. Karena itu, intervensi harus dilakukan sedini mungkin,” ujarnya.

Sementara itu, perbaikan pertumbuhan tinggi badan masih dapat diupayakan hingga anak berusia lima tahun melalui pemenuhan gizi yang baik. Namun, dokter menegaskan bahwa stunting tidak memiliki obat sehingga langkah paling efektif adalah melakukan pencegahan sebelum kondisi tersebut terjadi.

Selain memengaruhi kemampuan belajar, stunting juga berdampak terhadap peluang kerja dan kualitas hidup seseorang ketika dewasa. Anak yang mengalami stunting berpotensi mengalami keterbatasan dalam memenuhi persyaratan fisik untuk profesi tertentu, seperti anggota TNI, Polri, maupun pilot.

Tidak hanya itu, stunting juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari, seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas. Daya tahan tubuh anak pun cenderung lebih rendah sehingga lebih mudah terserang penyakit.

Dalam kesempatan tersebut, dokter juga mengingatkan pentingnya mencegah pernikahan usia dini sebagai salah satu upaya menekan angka stunting. Menurutnya, kehamilan pada usia yang terlalu muda berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) maupun bayi prematur, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya stunting.

“Remaja yang menikah terlalu muda umumnya belum siap secara fisik maupun mental untuk menjalani kehamilan dan mengasuh anak. Kondisi ini dapat memengaruhi pola asuh serta pemenuhan gizi anak, sehingga risiko stunting menjadi lebih besar,” katanya.

Ia mengimbau para calon orang tua agar mempersiapkan kehamilan secara matang, baik dari sisi kesehatan, kesiapan mental, maupun pengetahuan mengenai pemenuhan gizi anak. Dengan demikian, diharapkan lahir generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta terbebas dari risiko stunting. (adv/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *