Bapelitbang PPU Petakan Akar Masalah Stunting, Perencanaan Berbasis Data Diperkuat

Serkretaris Bapelitbang PPU, Arif Afandi

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui kajian yang berfokus pada identifikasi akar permasalahan dan penyusunan strategi intervensi terpadu. Langkah ini dilakukan agar program penanganan stunting dapat dirancang berdasarkan kondisi nyata di lapangan, didukung data yang akurat, serta melibatkan koordinasi lintas sektor.

Upaya tersebut dibahas dalam pemaparan laporan pendahuluan atau Focus Group Discussion (FGD) pertama yang diselenggarakan Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU pada Rabu, (7/10/2026), di Ruang Rapat Bapelitbang Lantai 3, Gedung Asisten I.

Serkretaris Bapelitbang PPU, Arif Afandi dalam kegiatan tersebut menyampaikan, terdapat dua kajian strategis yang menjadi pembahasan, yakni Rencana Aksi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan Kabupaten PPU dan Analisis Akar Masalah Stunting serta Strategi Intervensi Terpadu.

Kedua kajian ini diarahkan untuk memperkuat keterkaitan antara perencanaan pembangunan kependudukan dan kebijakan penanganan stunting. Dengan memahami persoalan secara menyeluruh, pemerintah daerah diharapkan dapat menentukan prioritas program yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Dalam kajian pembangunan kependudukan, tim P2MKT Universitas Mulawarman memaparkan pentingnya peta jalan sebagai acuan operasional lima tahunan yang terintegrasi dengan perencanaan pembangunan daerah dan program perangkat daerah terkait,” katanya.

Lanjutnya, pembahasan mencakup lima pilar pembangunan kependudukan, meliputi pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas penduduk, pembangunan keluarga, persebaran dan mobilitas penduduk, serta penguatan data dan administrasi kependudukan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian ialah pemanfaatan data kependudukan yang belum optimal serta adanya perbedaan angka di antara sejumlah dokumen. Kondisi tersebut memerlukan penyelarasan agar data yang digunakan dalam perencanaan memiliki rujukan yang konsisten.

Sementara itu, kajian stunting menyoroti berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kesehatan dan gizi, pola asuh, kondisi lingkungan dan infrastruktur, sosial ekonomi, hingga tata kelola layanan. Perbedaan angka prevalensi stunting dari berbagai sumber juga menjadi perhatian untuk ditelaah lebih lanjut.

“Melalui kajian tersebut, perangkat daerah terkait didorong memperkuat kelengkapan data hingga tingkat desa dan kelurahan, menyelaraskan angka rujukan, serta mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan intervensi prioritas,” tuturnya.

Ia menambahkan, pendekatan ini penting agar penanganan stunting tidak hanya berfokus pada satu sektor, tetapi dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak sesuai faktor penyebab yang ditemukan di lapangan.

Hasil kajian nantinya diharapkan menjadi landasan bagi penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan yang lebih terarah, terpadu, dan berbasis bukti. Dengan dukungan data yang terukur dan kontekstual, pemerintah daerah dapat menyusun program yang sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas pemanfaatan sumber daya.

“Melalui penguatan perencanaan pembangunan kependudukan dan kajian akar masalah stunting, Bapelitbang PPU mendorong terwujudnya kebijakan yang lebih terintegrasi. Upaya ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas penduduk serta memperkuat langkah percepatan penurunan stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara,” tutupnya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *