SAMARINDA – Jelang Perhelatan Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) di Papua pada 7-13 November 2021 mendaang, National Paralympic Committee (NPC) Indonesia mengadakan Klasifikasi Atlet Paralympic di Hotel MJ Samarinda, pada Sabtu malam (16/10/2021) kemarin.
Pada kegiatan klsifikasi tersebut, NPCI Kaltim menghadirkan Dokter Yanti yang merupakan spesialis Patologi yang diminta sebagai classifier atau penentu keabsahan seorang atlet difabel untuk bertanding sesuai tingkat kecacatannya.
Dikonfirmasi, Ketua NPCI Kalimantan Timur, Suharyanto menjelaskan, sebelum diberangkatkan menuju Peparnas, pihaknya wajib terlebih dahulu melaksanakan klasifikasi sebagai bentuk Inti Kontingen Kaltim menuju Peparnas ke XVI Papua 2021 November mendatang.
“Kontingen kita sendiri akan berangkat pada 2 November mendatang,” ungkap Suharyanto kepada kepada awak media.
Lanjut Suharyanto, perlu perjuangan yang panjang hingga akhirnya NCPI Kaltim mendapatkan anggaran dari pemerintah Provinsi Kaltim untuk dapat berpartisipasi dalam ajang nasional tersebut untuk mewakili Kaltim.
“Walau tak terlalu besar, tapi kita bersyukur dan akan memaksimalkan anggaran yang diberikan itu,” ujar mantan ketua NPCI Kota Balikpapan dua periode tersebut.
Suharyanto menegaskan akan menjaga penuh kepercayaan pemeritah provinsi Kaltim dan bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi Kaltim di Peparnas Papua nanti.
“Kita menyediakan 108 kuota atlit yang akan berangkat,” katanya.
Dia menjelaskan, NPCI adalah ajang multi-olahraga internasional yang diikuti oleh atlet difabel atau atlit dengan keterbatasan fisik ataupun mengalami permasalahan mental dan sensoral.
Oleh karena itu ucap dia, dari 108 atlit difabel tersebut harus memiliki pendamping sebesar 60 persen.
“Jadi kami akan memberangkatkan 204 orang dari atlit dan pendampingnya,” jelas Suharyanto.
Dirinya berharap, Pemerintah bisa lebih memperhatikan atlit-atlit (difabel). Karena ucap dia, sejatinya hak para atlet baik yang normal maupun difabel adalah sama.
“Posisinya sama dalam Undang-Undang, hanya saja tidak sempurna secara fisik. Jadi kami percaya atlit-atlit kita bisa membuktikan dan memberikan kebanggaan bagi Kaltim,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Seleksi NPCI Kaltim, Mardiansyah mengatakan, persiapan telah dilakukan sejak Januari lalu. Bahkan, persiapan tersebut dilakukan dalam kondisi anggaran yang sangat minim.
“Tapi NPCI Kaltim harus melakukan seleksi mandiri untuk setiap Kabupaten Kota yang ada di Kaltim,” paparnya.
Sehingga ungkap Mardikansyah, tim seleksi hari mendatangi tiap kabupaten/kota di Kaltim untuk menyeleksi atlit-atlit yang memiliki kemampuan.
“Dari 10 kabupaten/kota, kita berhasil mendapatkan atlit dari tujuh Kabupaten/Kota. Kabupaten Mahakam Ulu, Kutai Barat dan Berau tidak ada atlit difabel yang kita dapat,” tandasnya.
Sementara itu, atlet terbanyak yang ia dapati yakni dari Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Bahkan, saat H-3 keberangkatan atau 29 Oktober mendatang pihaknya akan melakukan karantina bagi atlit dan tim yang akan berangkat.
“Harapan kita semua semoga atlit Kaltim bisa mendapat prestasi yang terbaik,” tutupnya.(red)
