SAMARINDA – Hutan mangrove di Kaltim terpilih jadi proyek pencontohan pengurangan sampah plastik yang terapung dan hanyut.
Proyek itu dikerjakan oleh konsultan lingkungan asal Jepang, yakni Japan Nus Co.LTD (Janus). Lokasi proyek yang dipilih Janus berada di Balikpapan.
Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim, Rina Juliati mengatakan alasan di pilihnya Kaltim karena memiliki kawasan hutan mangrove yang cukup luas, namun memiliki permasalahan sampah laut yang cukup kompleks.
“Sampah laut di Kalimantan menjadi perhatian karena kuatitasnya yang cukup tinggi. Terutama di dekat muara sungai yang menjadi kawasan mangrove,” ungkap Rina di Samarinda, Senin (5/6/2023).
Rina mengatakan Balikpapan memiliki 10 hotspot sampah di kawasan pesisir laut. Sehingga Balikpapan juga diperkirakan memiliki jumlah sampah laut yang tinggi karena jumlah hotspot sampah yang relatif besar di zona pasang surut tempat tumbuhnya mangrove.
“Dalam proyek ini nantinya akan dilakukan kegiatan Survei sampah laut di daerah mangrove. Nanti kami melakukan pendampingan pada saat survei,” terang dia.
Survei itu meliputi komposisi sampah laut di mangrove, penilaian dampak sampah laut terhadap mangrove, tingkat kematian mangrove muda, peningkatan kesadaran masyarakat, demonstrasi untuk membangun sistem pembersihan oleh berbagai entitas, serta menyusun pedoman pembersihan di kawasan mangrove.
Rina berharap proyek ini bisa berhasil dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas data informasi untuk penanganan sampah laut di wilayah Mangrove. Sekaligus dapat mengurangi kuantitas sampah di laut dan kawasan mangrove, serta dapat menjadi pembelajaran di daerah lain.
Tak hanya itu, kata Rina, kemungkinan proyek ini juga dapat diperluas di kabupaten lain yang memiliki kawasan mangrove dengan luasan cukup besar. Seperti di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, dan Penajam Paser Utara. (Adv/diskominfo kaltim/dtn)
