TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berencana merehab makam Sultan Adji Muhammad Idris pasca ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Selain rehab makam, Pemkab juga bangun patung Sultan Adji Muhammad Idris.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin mengatakan pihaknya akan ziarah ke makam Sultan Adji Muhammad Idris yang ada di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Pemkab Kukar juga berencana akan melakukan rehab makam beliau. Karena informasinya disana makam beliau memang saat ini kurang terawat,” ungkap Rendi, Sabtu (13/11/2021).
Tak hanya itu, pemkab Kukar juga berencana untuk membuatkan patung Sultan Adji Muhammad Idris di Kukar.
Selain itu, pemkab Kukar tengah mencanangkan atau mengusulkan Sultan Adji Muhammad Idris menjadi nama jalan di sekitar kawasan Tenggarong atau Kabupaten Kukar secara umumnya.
Sebagai informasi, Presiden Jokowi menetapkan Sultan Adji Muhammad Idris karena perjuangannya melawan penjajah. Ia juga menjadi pernah menjadi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura ke-14.
Penganugerahan tersebut diberikan langsung Presiden RI Joko Widodo dan diterima Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura ke-21 yakni Sulyan Adji Muhammad Arifin di Istana Negara, Jakarta pada Rabu, (10/11/2021).
SOSOK SULTAN ADJI MUHAMMAD IDRIS
Diketahui, penetapan Pahlawan Nasional untuk Sultan Aji Muhammad Idris menurut berkas yang diajukan Pemprov Kaltim adalah riwayat perjuangan beliau berperang melawan VOC pada abad ke-18.
Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa Sultan AM Idris adalah Raja Kutai Kertanegara Ing Martapura ke-14. Beliau bertakhta sejak 1732 ketika pusat pemerintahan Kutai berada di Pemarangan-Jembayan, sekitar 10 kilometer ke arah barat dari Kota Samarinda.
Pada masa beliau kali pertama dipergunakan istilah sultan sebagai penguasa singgasana Kerajaan Kutai Kertanegara, meskipun bukan raja pertama yang menganut Islam, karena Kuai sudah menjadi Kerajaan Islam sejak 1575. Beliau juga merupakan cucu menantu dari Sultan Wajo La Maddukeleng di Pulau Sulawesi.
Sultan AM Idris dikatakan sebagai panglima perang yang bertempur bersama rakyat Wajo melawan kongsi dagang Belanda. Beliau disebut gugur di medan pertempuran pada 1739 di tanah Wajo, sehingga dimakamkan di wilayah selatan Pulau Sulawesi tersebut. (*)
