Kebutuhan Daging Segar Capai 60-70 Ton Pertahun Jika IKN Pindah

SAMARINDA – Seiring dengan ditetapkannya Kalimantan Timur sebagai Ibukota Negara (IKN Nusantara), dipastikan juga akan menjadikan provinsi ini kedatangan banyak orang dari luar Kaltim untuk menetap.

 

Hal ini tentunya juga akan berdampak pada meningkatnya jumlah kebutuhan pangan di Kaltim. Diantaranya adalah kebutuhan daging segar.

 

Namun faktanya, hingga saat ini, Kaltim sendiri mengalami kesulitan untuk pemenuhan daging segar, lantaran jumlah ternak yang masih minim.

 

Hal itu juga disampaikan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim H Munawwar. Dikatakannya, kebutuhan daging segar setiap tahunnya diperkirakan mencapai 60 hingga 70 ton jika IKN Nusantara jadi dipindahkan.

 

Padahal kata dia, saat ini populasi hewan ternak yang ada di Kaltim masih kurang dan harus mendatangkan ternak dari daerah luar.

 

Data populasi hewan ternak Kaltim di tahun 2021 mencapai 120 ribu, sementara target kebutuhan mencapai 650 ribu.

 

“Kalau IKN, kebutuhan kita sampai 70 ton per tahun. Sedangkan populasi ternak kita target kebutuhan 650 ribu, tapi kita hanya bisa mampu 23 persen. Jauh sekali memang kurangnya,” bebernya baru-baru ini pada awak media.

 

Namun untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi daging pasar, Munawwar memastikan bahwa Kaltim sudah mencukupi dengan stok daging beku.

 

“Daging kita sudah mencukupi dan memenuhi Kaltim, karena pasokan daging kita dari daging beku,” ujarnya.

 

Sementara, pemenuhan kebutuhan daging segar, menurut Munawwar, Kaltim belum mampu menyediakan sepenuhnya.

 

“Untuk populasi daging segar ini kan masih jauh, jadi tentu masih kurang,” katanya.

 

Dengan adanya upaya pihak swasta untuk melakukan pengembangan hewan ternak di Kaltim, Munawwar menilai upaya tersebut sebagai langkah positif membantu pemerintah.

 

“Kalau IKN sudah pindah, tentu perlu pengembangan semua kawasan untuk peternakan. Kami sangat mengapresiasi dengan upaya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang melakukan pengembangan sapi, sebagai penyuplai kebutuhan daging kepada masyarakat. Tapi memang, rata-rata yang namanya pengembangan pembibitan ini lama. Sedang penggemukan sapi, karena di situ cash flow bisa tiga bulan. Kalau pembibitan sama dengan orang melahirkan, butuh waktu,” pungkasnya. (NYS/ ADV Diskominfo Kaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *