Bersama Pemkab PPU, PHKT Perkuat Komitmen Cegah Stunting, Siapkan Generasi Emas PPU Menuju IKN 2045

PENAJAM – PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menegaskan komitmennya dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program ini tidak hanya berfokus pada sektor kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sebagai wilayah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).

Perwakilan PHKT menjelaskan bahwa pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang yang harus dimulai sejak dini, bahkan sebelum pasangan memasuki jenjang pernikahan. Edukasi kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi rangkaian penting dalam membentuk generasi yang sehat dan berkualitas.

“Program ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat PHKT. Kami memandang bahwa stunting bukan hanya persoalan tinggi badan atau kondisi fisik anak, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun kualitas generasi penerus bangsa,” ujar perwakilan PHKT.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan suatu daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusianya. Dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat, angka stunting diharapkan dapat terus ditekan sehingga lahir generasi yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing.

Ia mencontohkan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata ditentukan oleh postur tubuh, melainkan oleh kualitas kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki.

“Harapan kami, generasi di Penajam Paser Utara sebagai daerah penyangga utama IKN dipersiapkan mulai sekarang. Persiapan itu tidak hanya dimulai pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, tetapi bahkan sejak sebelum pernikahan melalui edukasi kepada calon pengantin. Selama kehamilan, masa menyusui, hingga anak berusia dua tahun merupakan satu rangkaian yang sangat penting dalam membentuk Generasi Emas 2045,” katanya.

PHKT juga memastikan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, khususnya DP3AP2KB, akan terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Perusahaan menilai bahwa keberhasilan operasional harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah kerja.

“Keberhasilan operasi perusahaan harus diikuti dengan keberhasilan pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Jangan sampai operasional perusahaan berjalan baik, tetapi masyarakat tidak merasakan manfaatnya. Karena pada akhirnya masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam keberlangsungan perusahaan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah sekitar juga menjadi investasi bagi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja di masa depan.

“Kalau kita bisa memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas dari daerah sekitar, tentu itu menjadi keuntungan bersama. Generasi muda Penajam Paser Utara harus mampu bersaing, tidak hanya dengan tenaga kerja dari luar daerah atau luar provinsi, tetapi juga di tingkat global. Karena itu, persiapan harus dimulai sejak sedini mungkin,” pungkasnya.

Melalui sinergi antara dunia usaha dan pemerintah daerah, PHKT berharap upaya pencegahan stunting dapat berjalan secara berkelanjutan sehingga mampu mencetak generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan siap menjadi pelaku utama pembangunan di Kabupaten Penajam Paser Utara maupun Ibu Kota Nusantara pada masa mendatang.

Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi berita ini dengan gaya jurnalistik media online (gaya Antara/Kompas) atau versi rilis resmi humas pemerintah.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerakan (P4) DP3AP2KB PPU, Andriany Yusnita mengatakan, kerja sama dengan PHKT bukanlah program yang baru, melainkan kemitraan yang telah terjalin dalam berbagai kegiatan pencegahan stunting.

“Ini merupakan program lanjutan. Sebelumnya PHKT juga telah beberapa kali menjadi salah satu donor dalam berbagai kegiatan DP3AP2KB, mulai dari pembinaan remaja melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), pendampingan calon pengantin bekerja sama dengan Kementerian Agama, hingga sekarang kepada keluarga berisiko stunting,” ujarnya.

Menurutnya, upaya pencegahan stunting harus dilakukan sejak sebelum seseorang menjadi orang tua. Edukasi kepada remaja, calon pengantin, ibu hamil hingga keluarga merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.

“Pencegahan stunting bukan hanya dilakukan ketika ibu sudah hamil atau anak sudah lahir. Dari remaja pun sudah dimulai, misalnya melalui pemberian tablet tambah darah agar kondisi kesehatannya baik ketika memasuki usia pernikahan dan kehamilan,” jelasnya.

Dia menegaskan bahwa peserta yang menerima bantuan kali ini bukan merupakan keluarga yang anaknya sudah mengalami stunting, melainkan keluarga yang masih berada dalam kategori berisiko sehingga masih dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan.

“Mereka ini belum stunting, tetapi masih berisiko. Artinya masih bisa kita cegah. Salah satunya melalui pemenuhan gizi, seperti konsumsi telur setiap hari yang diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya stunting,” katanya.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa stunting hanya dialami keluarga kurang mampu. Menurutnya, penyebab utama stunting lebih banyak dipengaruhi oleh pola asuh dan pemenuhan gizi yang kurang tepat.

“Stunting bukan semata-mata karena kemiskinan. Banyak keluarga yang mampu, tetapi pola asuh dan pola makannya kurang baik. Misalnya lebih memilih makanan instan dibanding makanan bergizi. Jadi yang paling penting adalah edukasi tentang pola asuh dan pemenuhan gizi keluarga,” ungkapnya.

DP3AP2KB PPU berharap kemitraan dengan PHKT dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaat dari program-program pencegahan stunting.

Dirinya menambahkan, penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab DP3AP2KB, melainkan membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.

“Harapan kami, kerja sama ini terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab DP3AP2KB, tetapi seluruh lintas sektor harus bersama-sama bergotong royong menekan angka stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara agar semakin rendah,” pungkasnya. (adv/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *