Foto bersama usai kegiatan
PENAJAM – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali menggandeng PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dalam upaya percepatan pencegahan stunting. Melalui kolaborasi tersebut, PHKT menyalurkan bantuan sebanyak 20 paket sembako bergizi kepada keluarga berisiko stunting di Kecamatan Penajam.
Penyaluran bantuan tersebut dikemas dalam kegiatan Sosialisasi Pola Asuh 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang diikuti perwakilan keluarga berisiko stunting dari sejumlah kelurahan di Kecamatan Penajam pada Kamis, (9/7/2026).
Setiap paket bantuan berisi berbagai kebutuhan pangan bergizi, seperti telur, gula, dan bahan pokok lainnya yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga, khususnya bagi ibu hamil dan balita.
Kepala DP3AP2KB PPU, Jensje Grace Makisurat melalui Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerakan (P4) DP3AP2KB PPU, Andriany Yusnita mengatakan, kerja sama dengan PHKT bukanlah program yang baru, melainkan kemitraan yang telah terjalin dalam berbagai kegiatan pencegahan stunting.
“Ini merupakan program lanjutan. Sebelumnya PHKT juga telah beberapa kali menjadi salah satu donor dalam berbagai kegiatan DP3P2KB, mulai dari pembinaan remaja melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), pendampingan calon pengantin bekerja sama dengan Kementerian Agama, hingga sekarang kepada keluarga berisiko stunting,” ujarnya.
Menurutnya, upaya pencegahan stunting harus dilakukan sejak sebelum seseorang menjadi orang tua. Edukasi kepada remaja, calon pengantin, ibu hamil hingga keluarga merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.
“Pencegahan stunting bukan hanya dilakukan ketika ibu sudah hamil atau anak sudah lahir. Dari remaja pun sudah dimulai, misalnya melalui pemberian tablet tambah darah agar kondisi kesehatannya baik ketika memasuki usia pernikahan dan kehamilan,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa peserta yang menerima bantuan kali ini bukan merupakan keluarga yang anaknya sudah mengalami stunting, melainkan keluarga yang masih berada dalam kategori berisiko sehingga masih dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan.
“Mereka ini belum stunting, tetapi masih berisiko. Artinya masih bisa kita cegah. Salah satunya melalui pemenuhan gizi, seperti konsumsi telur setiap hari yang diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya stunting,” katanya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa stunting hanya dialami keluarga kurang mampu. Menurutnya, penyebab utama stunting lebih banyak dipengaruhi oleh pola asuh dan pemenuhan gizi yang kurang tepat.
“Stunting bukan semata-mata karena kemiskinan. Banyak keluarga yang mampu, tetapi pola asuh dan pola makannya kurang baik. Misalnya lebih memilih makanan instan dibanding makanan bergizi. Jadi yang paling penting adalah edukasi tentang pola asuh dan pemenuhan gizi keluarga,” ungkapnya.
DP3P2KB berharap kemitraan dengan PHKT dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaat dari program-program pencegahan stunting.
Dirinya menambahkan, penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab DP3P2KB, melainkan membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
“Harapan kami, kerja sama ini terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab DP3P2KB, tetapi seluruh lintas sektor harus bersama-sama bergotong royong menekan angka stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara agar semakin rendah,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia usaha, diharapkan upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara dapat berjalan lebih optimal. Selain pemberian bantuan pangan bergizi, edukasi mengenai pola asuh selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan juga menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. (adv/red)
