Anggaran Bertambah dan Dilaksanakan November, Festival Nondoi PPU Dipersiapkan Lebih Panjang

Festival Belian Adat Paser Nondoi di PPU

PENAJAM – Pelaksanaan Festival Belian Adat Paser Nondoi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tidak hanya mengalami perubahan jadwal, tetapi juga berpeluang mengalami pengembangan rangkaian kegiatan.

Festival yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada Oktober 2026 kini dipersiapkan untuk digelar pada November. Perubahan tersebut berkaitan dengan penambahan dukungan anggaran melalui APBD Perubahan 2026.

Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Budi Setyo, mengatakan anggaran festival yang sebelumnya disiapkan sebesar Rp200 juta mendapat tambahan Rp100 juta. Dengan demikian, total dukungan anggaran yang dipersiapkan mencapai Rp300 juta.

“Rencana awal Oktober, sekarang bergeser ke November karena masih menunggu anggaran perubahan,” kata Budi, Kamis (24/9/2026).

Tambahan anggaran tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah dan pihak adat untuk menyusun rangkaian Festival Nondoi secara lebih matang. Salah satu yang tengah dibahas adalah penambahan durasi pelaksanaan dari sebelumnya tiga hari tiga malam menjadi empat hari empat malam.

Namun, menurut Budi, durasi ritual tidak dapat ditentukan sepihak oleh pemerintah. Pelaksanaan ritual Belian tetap mengacu pada perhitungan dan keputusan pihak adat.

“Informasi terkini dari pihak adat, hasil perhitungan ketua mulung mengarah pada pelaksanaan empat hari empat malam,” ujarnya.

Budi menjelaskan, secara tradisi ritual Belian Adat Paser Nondoi bahkan dapat berlangsung hingga tujuh hari tujuh malam. Karena memiliki ketentuan adat tersendiri, pemerintah menempatkan Lembaga Adat sebagai pihak yang memiliki peran penting dalam menentukan pelaksanaan ritual.

Disbudpar PPU selanjutnya akan kembali melakukan pembahasan bersama Lembaga Adat untuk memfinalisasi konsep kegiatan. Pemerintah ingin memastikan tambahan anggaran dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan festival tanpa mengurangi nilai dan substansi ritual adat.

“Kalau sebelumnya fokus pada ritual Belian sebagai inti festival sampai larung jakit. Nanti akan kita bahas lagi bersama Lembaga Adat. Dengan dukungan anggaran yang ada, mungkin bisa ditambahkan rangkaian kegiatan lainnya,” kata Budi.

Selain ritual utama, sejumlah kegiatan pendukung berpeluang dimasukkan dalam agenda festival. Namun, bentuk dan rangkaian kegiatan tersebut masih menunggu hasil pembahasan bersama pihak adat.

Dengan perubahan jadwal dan tambahan dukungan anggaran tersebut, Festival Nondoi 2026 kini tengah diarahkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat pelestarian tradisi dan kebudayaan Paser di PPU.

Finalisasi konsep kegiatan akan dilakukan setelah pembahasan antara Disbudpar dan Lembaga Adat, sebelum Festival Nondoi digelar pada November 2026. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *