Proses penanganan karhutla di Desa Rawa Mulya oleh tim BPBD PPU. (Dok. Pusdalops BPBD PPU)
PENAJAM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di wilayah RT 15, Desa Rawa Mulia, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kamis (24/9/2026) kemarin. Kebakaran tersebut melanda lahan gambut yang ditumbuhi semak belukar dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.
Berdasarkan laporan penanganan karhutla yang diterima Pusdalops, kejadian diketahui sekitar pukul 15.35 WITA. Laporan kemudian masuk sekitar pukul 15.58 WITA. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, melalui tim di lapangan melakukan koordinasi bersama sejumlah unsur terkait dalam upaya pemadaman dan pendinginan.
Pemadaman dilakukan dengan metode penyemprotan menggunakan jet shutter dan mesin portable milik BPBD PPU yang dilengkapi dua mata semprot. Upaya tersebut dilakukan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah munculnya titik api baru di area yang terbakar.
Dalam laporan disebutkan, kronologi maupun penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti. Adapun lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan semak belukar di bagian atasnya, sehingga penanganan dilakukan tidak hanya dengan pemadaman, tetapi juga pendinginan guna mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Proses pemadaman dan pendinginan berlangsung hingga pukul 22.20 WITA. Setelah kondisi dinilai terkendali, tim gabungan kemudian kembali ke pos masing-masing
Tim yang terlibat dalam penanganan terdiri atas DKPK Pos Babulu, BPBD PPU, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Sekretaris Desa Rawa Mulia, ketua RT 10, 14 dan 15, serta masyarakat setempat.
Untuk mendukung operasi di lapangan, DKPK Pos Babulu mengerahkan satu unit mobil Brenweer. Sementara BPBD PPU menurunkan dua unit mobil operasional dan satu unit mesin portable. Babinsa turut mendukung penanganan dengan satu unit motor trail.
Berdasarkan kondisi terakhir yang dilaporkan, secara visual lokasi karhutla sudah tidak menunjukkan titik-titik asap yang berpotensi menimbulkan titik api baru. Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan mengingat lahan yang terbakar merupakan area gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan. (ADV)
