Dok. Humas Pemprov Kaltim
SAMARINDA – Seberapa kuat budaya membaca masyarakat Kalimantan Timur tidak hanya bisa dilihat dari banyaknya buku atau jumlah perpustakaan. Kondisi literasi juga perlu dipotret melalui data yang menggambarkan bagaimana masyarakat mengakses dan memanfaatkan layanan perpustakaan.
Hal inilah yang menjadi perhatian dalam Sosialisasi Pengisian Data Kajian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim secara daring, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan pengelola berbagai jenis perpustakaan, mulai dari sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, perangkat daerah, lembaga vertikal hingga perpustakaan umum kabupaten dan kota se-Kalimantan Timur.
Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca DPK Kaltim, Hana Iriana, mengatakan data IPLM dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) bukan sekadar angka. Data tersebut dapat menunjukkan gambaran kondisi literasi sekaligus menjadi bahan untuk melihat kebutuhan masyarakat.
“Data yang akurat akan menghasilkan gambaran yang objektif, sehingga dapat menjadi dasar dalam menyusun intervensi pembangunan literasi yang lebih tepat sasaran,” ujar Hana.
Berdasarkan hasil pengukuran 2025, Kalimantan Timur mencatat nilai IPLM 44,11 dan TKM 57,86. Nilai IPLM tersebut berada di atas rata-rata nasional yang tercatat 40,06, sekaligus menempatkan Kaltim di posisi ketujuh secara nasional.
Meski demikian, capaian tersebut masih menyisakan ruang untuk memperkuat akses dan pemanfaatan perpustakaan. Pengukuran IPLM 2026 pun diarahkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih aktual mengenai kondisi layanan perpustakaan di berbagai daerah.
Data yang dikumpulkan mencakup kondisi perpustakaan selama periode 1 Oktober 2025 hingga 30 September 2026. Pengumpulan data berlangsung hingga 30 November 2026.
Pengelola perpustakaan diminta memastikan data yang disampaikan sesuai kondisi sebenarnya dan memiliki bukti pendukung. Hal ini penting agar hasil kajian tidak berhenti sebagai angka indeks, tetapi dapat menggambarkan kebutuhan nyata masyarakat.
Melalui data tersebut, berbagai persoalan seperti akses layanan, ketersediaan koleksi, tenaga perpustakaan hingga tingkat pemanfaatan layanan dapat terlihat lebih jelas.
Hana menegaskan, ukuran keberhasilan literasi pada akhirnya bukan hanya meningkatnya angka indeks, tetapi sejauh mana perpustakaan mampu memberi manfaat terhadap pengetahuan dan kualitas hidup masyarakat.
“Kita ingin pembangunan perpustakaan dan literasi tidak berhenti pada peningkatan angka, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan pengetahuan, kemampuan, dan kualitas hidup masyarakat Kalimantan Timur,” pungkasnya. (*)
