Pemkab PPU Perkuat Pendidikan Ramah Anak, Guru Didorong Pahami Kebutuhan Belajar Setiap Murid

Plt Kepala Disdikpora PPU, Muhtar

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus mendorong terwujudnya pendidikan yang ramah anak dengan memastikan setiap murid memperoleh kesempatan belajar sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

Penguatan peran tenaga pendidik menjadi salah satu langkah penting agar sekolah mampu menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari diskriminasi.

Melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Pemkab PPU menaruh perhatian pada peningkatan kompetensi guru dalam memahami keragaman karakteristik peserta didik. Hal ini menjadi penting karena setiap anak memiliki kemampuan, latar belakang, serta kebutuhan belajar yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.

Plt Kepala Disdikpora PPU, Muhtar mengatakan, pendidikan inklusif tidak sekadar membuka akses pendidikan bagi seluruh anak, tetapi juga memastikan mereka dapat berpartisipasi aktif dalam proses belajar.

“Guru dituntut mampu mengenali potensi dan hambatan yang dihadapi murid, kemudian menyesuaikan metode pembelajaran agar materi dapat diterima secara optimal,” ujarnya. Sabtu, (10/10/2026).

Upaya tersebut kata dia, turut diperkuat melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Pendidik Pendidikan Inklusi Dasar Tahun 2026 yang diselenggarakan Disdikpora PPU pada 21–24 September lalu. Kegiatan ini melibatkan 38 pendidik dan tenaga kependidikan dari satuan pendidikan formal, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga pendidikan dasar di seluruh kecamatan di Kabupaten PPU.

Lanjutnya, penguatan kapasitas tenaga pendidik tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

“Guru perlu membangun suasana kelas yang menghargai perbedaan, memberikan ruang bagi murid untuk bertanya dan berpartisipasi, serta menghindari perlakuan yang dapat membuat anak merasa tersisih,” katanya.

Muhtar menambahkan, pembelajaran yang ramah anak juga membutuhkan perhatian terhadap aspek psikologis dan sosial peserta didik. Anak yang merasa aman dan dihargai cenderung memiliki ruang lebih baik untuk mengembangkan potensi, membangun kepercayaan diri, dan berinteraksi dengan teman-temannya.

Karena itu ucapnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya diukur dari tersedianya akses sekolah, tetapi juga dari kemampuan satuan pendidikan memberikan layanan yang responsif terhadap kebutuhan setiap murid. Dukungan guru, tenaga kependidikan, dan lingkungan sekolah menjadi bagian penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Dirinya berharap, penguatan kompetensi pendidik dapat mendorong pemerataan kualitas layanan pendidikan di seluruh wilayah. Dengan pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan berorientasi pada kebutuhan anak, sekolah diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh yang mendukung perkembangan akademik maupun sosial peserta didik.

“Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pendidikan yang memberikan kesempatan setara bagi setiap anak untuk berkembang, tanpa membedakan latar belakang maupun kemampuan. Dengan demikian, pendidikan ramah anak dan inklusif di Kabupaten PPU diharapkan semakin nyata dirasakan dalam keseharian murid di sekolah,” tutupnya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *