Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sani Bin Husain.
Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Samarinda, Sani Bin Husain mengkritik penggunaan unsur agama Islam dalam film horor, menganggapnya sebagai penistaan agama.
Menurutnya, film-film horor yang menyisipkan elemen ibadah umat Islam seperti salat telah menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di masyarakat.
“Film-film yang menggabungkan unsur agama dengan genre horor ini membuat takut akan ibadah,” ungkap Sani, Sabtu (6/4/2024).
Meskipun ia menyukai menonton film, Sani merasa terganggu oleh film-film horor yang mencampuradukkan unsur agama dengan genre tersebut karena membuat takut akan ibadah. Ia meminta pemilik bioskop untuk tidak memutar film-film semacam itu.
Sani khawatir akan dampak sosial dan psikologis film-film horor semacam itu yang dapat mengganggu keyakinan dan kepercayaan umat Islam serta menciptakan ketakutan yang tidak perlu terhadap praktik keagamaan.
Pembatasan atau penolakan terhadap film-film semacam ini, menurut Sani, bukanlah bentuk sensor atau pembatasan kebebasan berekspresi, melainkan upaya untuk melindungi nilai-nilai keagamaan dan kesejahteraan mental masyarakat.
“Kebebasan berekspresi juga harus dibatasi oleh nilai-nilai moral dan etika yang berlaku di tengah masyarakat,” bebernya.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menekankan pentingnya menghormati agama dan keyakinan orang lain serta berharap adanya diskusi lebih lanjut tentang batasan-batasan dalam seni dan hiburan.
Terlebih tentang menjaga sensitivitas terhadap keyakinan dan nilai-nilai keagamaan dalam pembuatan konten media juga harus menjadi hal penting yang harus diterapkan.
“Film-film yang diputar di bioskop harus memberikan hiburan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dihormati oleh masyarakat, tanpa menimbulkan konflik atau ketakutan yang tidak perlu,” tambahnya. [aci/ADV DPRD SMD]
