Stok Beras Bulog Kaltim-Kaltara 15 Ribu Ton, Ketahanan Pangan Dijaga hingga Akhir 2026

Beras bulog. (Dok. Humas Pemprov Kaltim)

SAMARINDA — Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara memastikan ketersediaan pasokan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung program ketahanan pangan di Kalimantan Timur hingga penghujung 2026.

Saat ini, stok beras yang dikelola Bulog Kanwil Kaltim dan Kaltara mencapai sekitar 15.000 ton. Ketersediaan tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam menjaga pasokan beras, terutama melalui penyaluran bantuan pangan dan program stabilisasi harga.

Kepala Perum Bulog Kanwil Kaltim dan Kaltara, Musazdin Said, mengatakan stok yang tersedia akan digunakan untuk mendukung sejumlah penugasan pemerintah, termasuk bantuan pangan yang disalurkan kepada masyarakat.

Menurutnya, penyaluran bantuan pangan telah berlangsung sejak Juli hingga September 2026 dan akan terus dilanjutkan sampai Desember sesuai dengan penugasan yang diberikan kepada Bulog.

“Kalau untuk ketahanan pangan sekarang kurang lebih sekitar 15.000 ton. Ini kita pakai untuk bantuan pangan. Bantuan pangan ini akan berlanjut sampai dengan Desember nantinya,” ujar Musazdin saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Kemarau Menguji Ketahanan Pangan Kaltim, Kamis (24/9/2026).

Selain memastikan ketersediaan stok, Bulog juga menjalankan langkah stabilisasi harga beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program tersebut menyasar masyarakat melalui penyaluran beras SPHP serta kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah wilayah.

Musazdin menjelaskan, upaya tersebut dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga sekaligus membantu pemerintah daerah mengendalikan tekanan inflasi pangan

“Untuk menjaga inflasi daerah dengan beras SPHP, yang kemasan kuning, kemudian kegiatan-kegiatan GPM seperti itu. Masih bisa kita jaga untuk ketahanan pangannya, khususnya di Bulog, sampai dengan akhir Desember,” katanya.

Di sisi lain, ketahanan pangan Kaltim masih menghadapi tantangan dari aspek produksi beras lokal. Ketersediaan produksi daerah belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga diperlukan dukungan pasokan dari wilayah lain.

Bulog Kaltim dan Kaltara masih mendatangkan sebagian kebutuhan beras dari sejumlah sentra produksi di Pulau Jawa dan Sulawesi. Distribusi tersebut dilakukan melalui mekanisme pemerataan stok antarkantor Bulog.

Mekanisme pemerataan memungkinkan stok dari wilayah yang memiliki surplus dialokasikan ke daerah yang membutuhkan. Dengan pola tersebut, ketersediaan beras di Kaltim tetap dapat dijaga meskipun produksi lokal belum mencukupi seluruh kebutuhan.

“Untuk Kaltim sendiri, ketahanan pangannya memang selama ini kita masih datangkan dari Jawa dan dari Sulawesi,” jelas Musazdin.

Dengan stok sekitar 15.000 ton dan dukungan distribusi antarwilayah, Bulog memastikan pasokan beras tetap tersedia untuk menopang kebutuhan masyarakat serta pelaksanaan program pemerintah hingga akhir Desember 2026. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *