Dari Gagasan ke Manfaat, Bapelitbang PPU Dorong Inovasi Hadirkan Layanan Publik yang Praktis

Ilustrasi pelayanan pemkab PPU

PENAJAM – Inovasi pelayanan publik di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus berkembang. Sepanjang 2026, sebanyak 62 inovasi tercatat di Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU. Beragam inovasi tersebut lahir dari organisasi perangkat daerah (OPD), pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), hingga satuan pendidikan.

Namun, bagi Bapelitbang PPU, keberadaan inovasi bukan sekadar soal banyaknya program yang tercatat. Hal yang lebih penting adalah bagaimana gagasan tersebut mampu menjawab persoalan sehari-hari dan memberikan kemudahan bagi masyarakat.

Kepala Bidang Inovasi, Teknologi, dan Pengkajian Pengaturan Bapelitbang PPU, Anita Megawati, mengatakan inovasi yang masuk dalam pencatatan Bapelitbang memiliki latar belakang dan sasaran yang beragam.

“Di 2026 ini yang terdaftar di kami dan tercatat itu 62 inovasi. Itu ada dari OPD, ada dari puskesmas, ada dari SD, SMP,” ungkapnya.

Bapelitbang mengelompokkan inovasi tersebut ke dalam tiga kategori, yakni inisial, ongoing, dan matur. Pengelompokan ini menggambarkan tahapan perkembangan inovasi, mulai dari yang baru dirintis, sedang berjalan, hingga inovasi yang telah diterapkan dalam kurun waktu lebih dari dua tahun.

Dari berbagai inovasi tersebut, sejumlah program memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Salah satunya inovasi layanan perpindahan peserta didik yang dikembangkan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU.

Melalui layanan tersebut, orang tua tidak perlu lagi mendatangi kantor Disdikpora untuk mengurus surat perpindahan sekolah. Pengajuan dapat dilakukan melalui sekolah asal dengan memanfaatkan aplikasi yang telah disiapkan.

“Jadi orang tuanya tinggal datang ke sekolah, lewat aplikasi itu mereka enggak usah ke Disdikpora lagi untuk mengurus surat pindah,” jelas Anita.

Selain layanan pendidikan, inovasi lainnya juga menyentuh sektor kebencanaan, kesehatan, pendataan fasilitas perkotaan hingga perizinan. BPBD, misalnya, mengembangkan aplikasi yang berkaitan dengan mitigasi bencana, sementara sektor pelayanan publik juga mencakup berbagai kemudahan dalam proses administrasi.

Anita menekankan bahwa keberhasilan inovasi tidak semata diukur dari penghargaan atau posisi dalam sebuah kompetisi. Menurutnya, inovasi justru harus mampu menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan secara langsung.

“Juara itu bonus. Sekarang yang penting bagaimana kita membuat sesuatu untuk daerah kita,” katanya.

Karena itu, Bapelitbang PPU terus mendorong perangkat daerah dan satuan pendidikan agar tidak berhenti menciptakan gagasan, tetapi memastikan setiap inovasi memiliki manfaat, dapat diterapkan secara berkelanjutan, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, inovasi di PPU diharapkan tidak hanya menjadi program di atas kertas, melainkan berkembang menjadi solusi nyata yang membuat pelayanan pemerintah semakin sederhana, cepat, dan mudah diakses masyarakat. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *