Bukan Sekadar Aspal Baru, Ruas Jalan Kutai Barat Disiapkan untuk Layani Mobilitas hingga 20 Tahun

Dok. Humas Pemkab Kutai Barat

KUTAI BARAT – Perbaikan jalan di Kabupaten Kutai Barat diarahkan tidak sekadar menutup lubang atau memperhalus permukaan yang rusak. Perencanaan penanganan sejumlah ruas strategis mulai dari Simpang Linggang Bigung hingga Mentiwan disiapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan mobilitas masyarakat dalam jangka panjang.

Hal tersebut menjadi salah satu poin utama dalam rapat presentasi rencana penanganan jalan yang dipimpin Bupati Kutai Barat Frederick Edwin di Ruang Rapat Koordinasi Sekretariat Kabupaten Kutai Barat, Selasa (29/9/2026).

Sejumlah ruas yang dibahas mencakup Simpang Linggang Bigung, Simpang Raya, Sumber Sari, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq hingga Mentiwan. Selain itu, terdapat pula rencana rekonstruksi ruas Jalan Barong Tongkok menuju Linggang Bigung.

Konsep penanganan jalan kali ini menempatkan daya tahan dan kenyamanan pengguna sebagai perhatian utama. Artinya, jalan yang dibangun atau direkonstruksi diharapkan tidak hanya nyaman digunakan saat selesai dikerjakan, tetapi tetap mampu menunjang aktivitas masyarakat dalam waktu panjang.

Frederick Edwin mengatakan perencanaan harus melihat perkembangan kawasan dan peningkatan kebutuhan masyarakat. Karena itu, aspek teknis seperti pondasi, badan jalan, lebar jalan, bahu jalan hingga sistem drainase perlu diperhitungkan sejak awal.

“Yang kita cari bukan sekadar panjang jalan yang dibangun, tetapi kualitas dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tegasnya.

Dalam pemaparan konsultan perencana CV Cremona Teknik, sejumlah ruas dirancang memiliki umur rencana hingga 20 tahun. Perhitungannya mempertimbangkan pertumbuhan lalu lintas, kondisi jalan, mobilitas warga hingga aktivitas distribusi barang dan logistik.

Metode penanganan juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing ruas. Beberapa bagian direncanakan menggunakan konstruksi beton rigid, sementara bagian lainnya menggunakan metode overlay. Pelebaran badan jalan, pembangunan bahu, drainase dan box culvert turut masuk dalam desain penanganan.

Sejumlah titik yang mendapat perhatian untuk pelebaran antara lain kawasan Simpang Busur, depan SMP Negeri 1 Simpang Raya dan sekitar Rumah Sakit HIS. Fasilitas pejalan kaki juga menjadi bagian dari rencana, khususnya di kawasan sekolah dan rumah sakit.

Kehadiran trotoar dinilai penting karena aktivitas masyarakat di kawasan tersebut cukup tinggi. Dengan adanya fasilitas pejalan kaki yang lebih memadai, pengguna jalan tidak hanya mendapatkan akses kendaraan yang lebih baik, tetapi juga ruang yang lebih aman bagi pejalan kaki.

Penataan kawasan Bundaran Tugu Macan turut menjadi perhatian. Kawasan yang menjadi salah satu pintu masuk Kutai Barat tersebut direncanakan dengan mempertimbangkan kelancaran lalu lintas, keselamatan sekaligus tampilan kawasan.

Di sisi lain, aspek sosial juga mulai diperhitungkan sejak tahap perencanaan. Persoalan yang berkaitan dengan lahan, masyarakat maupun aktivitas usaha di sepanjang ruas jalan diharapkan dapat diantisipasi agar pekerjaan nantinya tidak menghadapi hambatan berarti.

Dengan konsep tersebut, peningkatan jalan di sejumlah kawasan Kutai Barat diharapkan memberikan dampak yang lebih luas. Jalan yang lebih baik bukan hanya mempermudah perjalanan warga, tetapi juga mendukung distribusi barang, akses menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Frederick menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pada akhirnya harus bermuara pada kebutuhan dasar masyarakat.

“Pada intinya, apa yang kita lakukan adalah bagaimana memberikan fasilitas dasar yang terbaik bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Kutai Barat,” ucapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *