SAMARINDA – Semenjak Presiden Jokowi memilih dan menetapkan Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai Ibukota Negara baru (IKN Nusantara), perhatian banyak mengarah pada provinsi yang dijuluki Benua Etam ini.
Bak magnet baru, provinsi Kaltim banyak dilirik oleh investor yang ingin ikut andil dalam pembangunan IKN Nusantara, bukan hanya investor lokal saja, tetapi investor besar dari manca negara pun ingin ikut ambil bagian.
Diantaranya adalah investor besar asal Malaysia, mereka sengaja bertandang ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim baru-baru ini, dalam rangka menjajaki rencana kerjasama investasi di berbagai bidang.
Tak hanya itu saja, pihak Kementrian Malaysia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk turut menanam investasi di Bumi Etam.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi. “Iya, memang ada pertemuan dengan Menteri Malaysia, dari Federal Malaysia, Serawak dan Sabah,” ucapnya, Senin kemarin.
Dikatakannya, kedatangan para investor Malaysia ke Kaltim dalam rangka menjajaki investasi, setelah ditetapkannya Kaltim menjadi IKN Nusantara.
“Mereka menjajaki investasi, karena mereka melihat Kaltim dijadikan Ibukota Negara. Tentu mereka melihat ada proyek-proyek besar yang akan dikerjakan, sehingga mereka ingin berinvestasi,” katanya.
Hadi Mulyadi mengatakan, Pemprov Kaltim mempersilahkan siapa saja pihak-pihak yang ingin menanamkan investasinya di Kaltim.
“Saya kira, silakan mereka menjajaki, mana yang mereka suka. Kita tidak pernah menutup siapapun dan bidang apa saja,” katanya.
Ditanya mengenai nilai nominal investasi yang akan diberikan oleh investor asal Malaysia tersebut, Wagub Hadi Mulyadi menyebut, saat ini belum ada pembicaraan serius dan lebih detail mengenai hal tersebut. Namun dia memastikan, pihak investor siap menanamkan modalnya ke Kaltim.
“Belum ada, karena tadi detailnya masih belum. Tapi mereka siap berapa saja,” sebutnya.
Saat ini, kata dia, yang diperlukan oleh Pemprov Kaltim untuk mendukung IKN Nusantara adalah investasi di bidang infrastruktur dan hilirisasi pembangunan pabrik CPO.
“Yang kita perlukan sekarang, investasi di bidang infrastruktur terkait IKN, seperti bendungan, jalan, air dan energi. Kedua, kota tawarkan, kalau mereka mau membangun hilirisasi dari CPO dan batu bara. Kalau mereka mau membangun hilirisasi ini, silakan,” terangnya.
Menurut Wagub Hadi Mulyadi, pabrik CPO di Kaltim masih sangat terbatas, sehingga perlu pembangunan pabrik CPO.
“Kita kan produk CPO besar, sementara produksi minyak sawit masih sedikit. Jadi, kita tawarkan juga. Kita baru punya 2 pabrik, di Bontang dan Balikpapan. Pabrik CPO kita ada 97, itupun masih dalam bentuk curah, kalau packing dibawa ke Jawa,” pungkasnya. (*)
