Salah satu peserta saat mengikuti pelatihan Welder di Bontang. (ist)
BONTANG – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2022, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Bontang mencapai 7,81 persen atau 7.742 orang dari jumlah angkat kerja sebanyak 99.150 orang.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Kota Bontang terhitung masih tinggi.
Oleh karena itu, perlu adsnya perhatian serius pemerintah kota Bontang untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, produktif dan berdaya saing dalam dunia kerja maupun usaha.
Salah satu upaya nyata yang dilakukan pemerintah saat ini dengan memberikan pelatihan khusus tipe Platinum kejuruan teknik pengelasan SMAW Pipe Welder 6G-UP Hill/HLO-45, untuk 40 remaja di Kota Bontang secara gratis.
Pelatihan tersebut merupakan program Pendidikan Kecapakan Kerja (PKK) yang didorong Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan mengandeng LKP Sasana Widya.
Pimpinan LKP Sasana Widya, Elok Erma Arviari menjelaskan, teknik pengelasan sengaja dipilih sebagai materi pendidikan dan pelatihan dalam program PKK ini, melihat karakteristik di Bontang yang lekat dengan industri dan peluang kerja yang besar.
“Pelatihan welder ini selaras kebutuhan kita sebagai kota industri. Jadi jangan sampai kita memberikan pelatihan, tapi ternyata tidak dibutuhkan,” ujarnya.
Dikatakannya, pelatihan itu berlangsung selama 44 hari, mulai 9 September lalu hingga 30 Oktober mendatang, dengan bimbingan dua orang trainer profesional yang punya pengalaman puluhan tahun di dunia industri.
Menurut Elok, pada saat open rekrutmen di buka minat masyarakat sangat tinggi karena mereka tahu, untuk mendapatkan pelatihan khusus welder butuh biaya yang cukup besar, sekitar Rp 13 juta.
Namun demikian ucap dia, pihaknya juga melibatkan psikolog dan HRD salah satu perusahaan, dan harus menyeleksi para peserta sampai 40 orang dilihat dari keseriusan mereka.
“Peserta yang mendaftar sebenarnya banyak. Kalau tidak salah sekitar 130 orang. Tetapi kami harus menyeleksi, tujuannya kami mencari peserta yang benar-benar mau menambah kompetensinya,” ungkapnya.
Dirinya berharap, program PKK khusus dapat membentuk karakter kerja dan legalitas keterampilan berupa sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Jadi peserta pelatihan tidak hanya di latih, tetapi disertifikasi oleh Lembaga Sertikasi Profesi (BNSP) agar mampu bersaing di dunia kerja,” harapnya.
Terpisah, Adjie Kresna Maedisyam (20) yang merupakan salah satu peserta pelatihan mengaku gembira telah mendapat kesempatan ikut pelatihan welder ini, dan tidak menyianyiakan peluang itu dengan baik.
Dirinya sadar, peluang tersebut tidak bisa dipastikan datang dua kali, terlebih biaya untuk mendapatkan pelatihan sekaligus sertifikat lumayan mahal.
“Alhamdulillah, saya hanya bisa berterima kasih kepada LKP dan pemerintah karena mendapatkan pelatihan ini secara gratis. Sementara banyak juga teman-teman yang lain yang berharap tapi tidak punya kesempatan,” tutupnya. (*)
