SAMARINDA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, melalui Ketua Komisi III, Angkasa Jaya Djoerani, menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi perdamaian dalam konflik lahan yang terjadi terkait revitalisasi Pasar Pagi.
Menurutnya, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan proyek tersebut sangat terbatas, sehingga dibutuhkan upaya cepat untuk menemukan solusi terkait lahan yang masih menjadi sumber perselisihan.
“Dalam pandangan saya, ini adalah kebuntuan komunikasi. Jadi, melihat kebijakan ini seperti hal yang prematur. Hal yang perlu kita sadari adalah bahwa setiap pemerintahan memiliki batasan waktu,” jelas Angkasa, Minggu (18/2/2024).
Angkasa Jaya menekankan bahwa batas waktu yang dimiliki harus menjadi kontrol bagi pemerintah kota (pemkot) dalam bertindak.
Menurutnya, proyek revitalisasi Pasar Pagi tidak boleh melebihi satu tahun anggaran, karena hal tersebut dapat merugikan alokasi anggaran di masa yang akan datang.
Ia juga menyatakan bahwa jika masyarakat merasa resah, maka pemerintah harus segera mengatasi masalah tersebut dengan kebijakan yang tepat.
Terkait dengan Pasar Pagi, misalnya, pemkot harus memberikan dukungan tidak hanya kepada pedagang, tetapi juga kepada pelanggan. Menurutnya, aktivitas ekonomi tidak akan berjalan lancar jika hanya didukung oleh salah satu pihak saja.
“Strategi pemerintah dalam hal ini, menurut pandangan saya, masih belum optimal. Oleh karena itu, perlu untuk direvisi kembali,” ujarnya.
Angkasa juga mengungkapkan bahwa mobilisasi pedagang dan pelanggan sebenarnya sama dengan membangun sumber daya manusia. Baginya, untuk memahami suatu kebijakan, hal yang paling penting adalah memahami manusianya terlebih dahulu.
“Ketika menghadapi kendala seperti konflik lahan ini, penyelesaiannya tidak boleh ditunda-tunda. Pemerintah harus segera turun tangan dan melibatkan masyarakat dalam mencari solusi, sehingga mereka tidak merasa ditinggalkan, bagaimanapun, mereka adalah masyarakat Samarinda yang juga merupakan pelaku usaha di Pasar Pagi tersebut,” pungkasnya. (ADV/DPRD Kota Samarinda)
