Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra.(ist)
Samarinda – Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Samri Shaputra, menilai bahwa pembangunan terowongan tidak efektif bagi masyarakat karena biaya operasionalnya yang tinggi.
Meskipun awalnya pemerintah kota memilih terowongan karena biaya pembangunannya dinilai lebih murah, Samri mengungkapkan bahwa biaya berkelanjutan dari operasional terowongan justru bisa menjadi lebih besar dan tidak pernah habis.
“Katanya itu lebih murah biaya pembangunannya. Tapi, dia tidak menghitung biaya berkelanjutannya, bisa jadi lebih besar dan tidak akan ada habisnya. Karena harus jalan terus selama terowongan dipakai,” ujar Samri pada Selasa (7/5/2024).
Ia membandingkan biaya pembangunan terowongan dengan flyover atau pemotongan gunung, yang menurutnya lebih kecil biayanya.
Samri menyarankan opsi pemotongan gunung sebagai solusi karena area tersebut sering terjadi kecelakaan akibat tanjakan yang tinggi, sementara flyover dan terowongan memerlukan biaya yang sangat besar.
Menurutnya, biaya awal pembangunan terowongan mungkin tidak seberapa, namun perawatan dan operasionalnya, seperti listrik untuk lampu dan blower yang harus menyala setiap saat demi keamanan, akan memakan biaya yang sangat besar.
“Kalau tawaran saya itu potong gunung, karena alasan di sana kan sering terjadi kecelakaan yang disebabkan tanjakan tinggi, kalau flyover dan terowongan itu terlalu besar biayanya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masalah lampu dan blower di terowongan yang harus beroperasi 24 jam, sementara lampu jembatan saja hanya menyala seminggu sekali.
“Baru lampu jembatan aja nyalanya seminggu sekali, mau coba-coba buat terowongan yang lampunya nyala 24 jam. Karena itu bukan hanya lampu, blower juga besar, itu listrik harus nyala terus,” tuturnya.(wan/ADV/DPRD SMD)
