PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) saat ini tengah menghadapi tantangan serius terkait keterbatasan anggaran daerah akibat pemangkasan dari Pusat ke Daerah. Namun, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus berusaha menjalankan program-progran di tengah kondisi tersebut.
“Kita berupaya menjalankan berbagai program pemberdayaan perempuan meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran,” kata Kepala DP3AP2KB PPU, Jansje Grace Makisurat. Jumat (24/4/2026).
Grace mengatakan, kondisi tersebut baginya bukan satu-satunya alasan untuk tidak berinovasi. Sebaliknya, instansinya berupaya menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan dan sektor perbankan.
“Kami akan mencoba menggandeng perusahaan atau pihak perbankan. Jika mereka memiliki program, mari kita laksanakan bersama untuk saling mendukung,” ujarnya.
Grace menuturkan, bukan hanya keterbatasan anggaran yang menjadi tantangan, melaikan partisipasi persempuan juga menjadi tantangan dikarenakan masih adanya perempuan yang belum percaya diri untuk terlibat aktif dalam kegiatan pemberdayaan.
“Kadang ketika ada kesempatan dan pihak yang mau membantu, justru perempuan sendiri yang tidak mau maju,” tegasnya.
Salah satu upaya yang dilakukannya yakni mengadakan kegiatan peringatan Hari Kartini ke-147 Tahun 2026, di antaranya lomba Kartini Challenge dan story telling yang digelar di kawasan Coastal Road, Kelurahan Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, pada Sabtu (25/4/2026), bertepatan dengan agenda Car Free Day (CFD).
Menurut Jansje, kegiatan tersebut dirancang untuk mendorong perempuan agar lebih berani tampil dan menyampaikan gagasan.
“Ada yang mengatakan tidak terbiasa berbicara, merasa malu. Untuk hal teknologi seperti penyuntingan video mungkin bisa dibantu, tetapi kendalanya justru ada pada diri mereka karena tidak berani,” jelasnya.
Ia berharap melalui kegiatan seperti story telling, perempuan dapat mulai membangun kepercayaan diri untuk berbicara di ruang publik.
“Saya ingin mendorong perempuan agar berani tampil dan bersuara. Dalam kegiatan story telling, mereka hanya perlu bercerita saja,” tutupnya. (adv/red)
