Ilustrasi stunting. (Ist)
PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memperkuat penanganan stunting melalui intervensi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan kolaborasi dengan perusahaan.
Berdasarkan data Sigizi Terpadu per Mei 2026, sebanyak 946 balita tercatat mengalami stunting dari 8.455 balita yang menjalani pengukuran di Posyandu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU, Ade Rianto Embongbulan, mengatakan penanganan stunting dilakukan melalui sejumlah program yang dialokasikan pada perangkat daerah.
“Secara rutin, kita mengalokasikan program-program atau pembiayaan dalam subkegiatan yang memang sudah menjadi bagian penanganan stunting di beberapa perangkat daerah,” ungkapnya.
Lanjutnya, intervensi penanganan stunting mencakup pemberian makanan tambahan (PMT), program kesehatan melalui Dinas Kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi melalui Dinas Ketahanan Pangan. Pemerintah juga mendorong penguatan layanan Posyandu untuk mendukung pemantauan pertumbuhan dan kondisi gizi balita.
Selain program pemerintah, Bapelitbang PPU mengupayakan kolaborasi dengan perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah dengan titik kasus stunting. Kolaborasi tersebut diarahkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
“Upaya kita kolaborasikan dengan perusahaan-perusahaan yang berlokasi di sekitar tempat adanya titik-titik stunting tersebut melalui mekanisme atau program CSR,” jelasnya.
Ade menambahkan, program penanganan stunting juga mencakup pemberian tablet tambah darah melalui Dinas Kesehatan serta penguatan pola makan sehat dan cadangan pangan melalui Dinas Ketahanan Pangan.
“Macam-macam istilahnya itu, PMT juga, pemberian makanan tambahan,” katanya.
Melalui berbagai intervensi tersebut, pemerintah daerah berupaya memperkuat penanganan masalah gizi secara berkelanjutan dengan melibatkan perangkat daerah, Posyandu, dan sektor swasta.
Berdasarkan data, jumlah sasaran balita pada Mei mencapai 10.364 anak. Dari jumlah itu, sebanyak 8.455 balita datang ke Posyandu dan menjalani pengukuran dengan cakupan 81,6 persen. Hasil pengukuran mencatat 946 balita atau 11,19 persen dinyatakan stunting.
Data Sigizi Terpadu tersebut menggunakan basis pengukuran balita yang datang ke Posyandu sehingga alami perbedaan dengan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kemenkes yang dilakukan secara nasional.
Dalam data SSGI, PPU disebut memiliki prevalensi stunting sebesar 32 persen dan menjadi angka tertinggi di Kaltim. (ADV)
