SAMARINDA – Pasangan suami istri (pasutri) Ataila (35) dan Anissa (32) tak menduga punya tagihan rumah sakit sebesar Rp 45 juta.
Warga Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda ini tak mampu bayar. Ataila sebagai sopir mobil boks ini mengaku tak punya uang sebanyak itu.
Istrinya Anissa hanya seorang ibu rumah tangga. Keduanya menghidupi tujuh anak, tinggal di rumah sewaan yang luasnya ruangnya tak seberapa.
Kisah keduanya terlilit hutang bermula saat Anissa mengandung anak kedelapan sekitar Oktober 2020.
“Saat itu istri saya sakit perut, dalam kondisi hamil mau melahirkan. Jadi kami ke salah satu klinik di Samarinda,” ungkap Ataila saat ditemui di kediamannya, Selasa (18/5/2021).
Setelah di klinik, kata Ataila, karena urusan medis istrinya dirujuk ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS).
Di AWS Anissa melahirkan di ruang IGD. Karena usia kehamilan belum sempurna, bayi yang dilahirkan prematur.
Oleh tim medis di AWS, bayi tersebut dimasukan ruang inkubator. Inkubator adalah alat yang berbentuk kotak dan berbahan plastik transparan.
Alat ini memungkinkan bayi terhindar dari infeksi bakteri dan suara bising, serta menjaga tubuhnya tetap hangat.
Selama 16 hari bayi mungil itu di ruang inkubator, tapi nyawanya tak tertolong.
“Kami urus pemulangan. Saat itu kami dapat tagihan kalau dibulatkan sekitar Rp 45 juta terhitung sejak masuk, istri melahirkan sampai bayi dalam perawatan di ruang inkubator” kata Ataila.
Awal masuk AWS Ataila bersama istrinya belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Karenanya sejak bayinya dirawat di ruang inkubator, Ataila sempat mengurus surat keterangan tidak mampu dari RT berharap mendapat kelonggaran dari pihak RS.
“Akhirnya saya diminta cicil sedikit-sedikit tagihan itu. Tapi saya enggak bisa bayar, saya hanya sopir,” tutur Ataila.
Tujuh bulan berjalan setelah peristiwa itu, pihak AWS menghubungi Ketua RT belum lama ini, mengkonfirmasi tagihan Ataila dan istrinya.
Humas RSUD AWS, dr. Arysia Andhina enggan berkomentar. Dia mengatakan sudah ada kesepakatan, setelah pihak rumah sakit berdialog dengan Yayasan Mansyur – Tuah.
“Silahkan ke Pak Suriansyah (pembina yayasan) aja ya. Saya no coment,” kata dokter Sisi sapaan Arysia Andhina.
Dibantu Yayasan Mansyur – Tuah
Setelah mendapat laporan perihal kasus ini, Pendiri Yayasan Mansyur – Tuah Peduli Sesama, H Suriansyah mendatangi RSUD AWS, Selasa (18/5/2021).
Di AWS, Suriansyah berdialog dengan pihak rumah sakit perihal tagihan ini. Dialog membuahkan hasil. Akhirnya disepakati tagihan senilai Rp 45 juta itu dibebaskan dengan syarat Ataila dan istri mengurus syarat administrasi.
“Mereka (pasutri) disuruh untuk membuat surat keterangan tidak mampu mulai dari RT, kelurahan hingga kecamatan,” ungkap Suriansyah.
Selain itu, Suriansyah meminta kedua pasangan itu juga mengurus BPJS. Imbauan sama juga disampaikan ke seluruh masyarakat Samarinda, agar kejadian sama tak terulang.
“Memang kita semua punya kewajiban membantu saudara kita yang sedang kesusahan, namun warga juga harus menyadari pentingnya kelengkapan administrasi sehingga semua pihak tidak ada yang kesulitan,” pungkasnya.
Untuk urusan ini, Suriansyah mengatakan Yayasan Mansyur – Tuah yang ia pimpinan siap membantu pendampingan, pun bantuan sosial dalam hal apapun.
Karena itu, Suriansyah mengimbau apabila ada warga Samarinda ingin mendapat bantuan sosial, bisa kontak Yayasan Mansyur – Tuah melalui call center – 0822 3627 8378.

Sekilas tentang Yayasan Mansyur – Tuah
Meski baru berdiri setahun, yayasan yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan ini banyak membantu masyarakat Samarinda.
Yayasan ini sering membantu masyarakat miskin yang membutuhkan pertolongan seperti kekurangan biaya pengobatan, anak yatim piatu, bahkan bedah rumah sampai bangun masjid dan pasantren.
Pendiri sekaligus pembina yayasan, Suriansyah mengatakan sejak setahun terakhir, Yayasan Mansyur – Tuah sudah membangun 10 masjid, 4 musola, 2 pasantren dan bedah 6 rumah warga tak mampu.
Tak tanggung-tanggung, rumah warga yang sebelumnya kayu, dibongkar dibangun kembali dari beton. Tak hanya itu, yayasan ini juga menampung kurang lebih 100 lansia di Samarinda.
“Kami juga pulangkan orang sudah lama merantau, tapi terkendala biaya enggak bisa pulang kampung ketemu ortu. Sekitar 20-an orang sudah kami pulangkan, ada yang ke Jawa, Sulawesi dan lain-lain,” terang Suriansyah.
Tak hanya itu, Suriansyah juga membeli lahan yang dihibahkan untuk pemakaman di Samarinda.
Belum lama ini, Suriansyah borong takjil pedagang kecil untuk dibagikan saat bulan puasa lalu. Dalam sehari dia menghabiskan Rp 50 juta untuk beli takjil.
Belum lagi, setiap hari tak jarang warga tak mampu datang ke rumahnya meminta bantuan. (Redaksi)
