SAMARINDA – Banyaknya gedung sekolah yang masih kurang mendapatkan perhatian terkait penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana penunjang belajar mengajar. Diantaranya, minim jumlah ruang kelas. Sementara jumlah siswa banyak, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan saat proses belajar mengajar.
Untuk itu, Anggota Komisi II DPRD Kaltim Sapto Setyo Pramono meminta Pemprov Kaltim untuk memperhatikan sarana dan prasarana sekolah-sekolah di Kaltim.
“Untuk memenuhi kebutuhan ruang lokal kelas, khususnya di SMA dan SKM mohon ini jadi perhatian,” ujarnya saat menyampaikan interupsi di rapat Paripurna DPRD Kaltim ke-45, yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim baru-baru ini.
Sapto mengatakan, tidak sedikit bangunan sekolah SMA dan SMK di Kaltim berada di lokasi rawan bencana. Dia mencontohkan bangunan SMA Negeri 3 Samarinda, yang beberapa ruang kelasnya terdampak banjir saat musim penghujan. Akibatnya, proses belajar mengajar dipastikan akan terganggu.
“Ada aspirasi yang disampaikan oleh pihak SMA 3, mereka membutuhkan ruang kelas, karena selama ini dari dampak banjir ketika hujan, mereka tidak bisa belajar. Sementara lahan sangat terbatas, yang bisa dilakukan hanya dengan meninggikan bangunan, ” katanya.
Menurut Sapto, pihak sekolah sudah mengajukan usulan peningkatan bangunan gedung sekolah dan telah mendapat rekomendasi pengerjaan di tahun 2023 mendatang.
“Mohon rekomendasi tersebut ditinjau ulang, apakah sudah masuk atau belum. Jangan sampai alokasi pembangunan, khususnya yang 20 persen ini tidak sampai. Ini lokasinya di dalam kota dan sangat membutuhkan, apalagi yang diluar kota, ” ujarnya.
Sapto melanjujtkan, selain SMA Negeri 3 Samarinda, dia meminta Pemprov Kaltim untuk membangun ruang kelas di SMA Negeri 17 Samarinda Seberang. Pasalnya, di sekolah tersebut memiliki jumlah murid yang banyak, sedangkan ruang kelas terbatas.
“Di sekolah ini perlu ruang kelas, karena mereka akan kebingungan ketika sudah zonasi. Gedung dan kelas yang terbatas tapi jumlah siswa banyak. Akhirnya ketika penuh, mereka bingung apakah dia posisinya lari ke Samarinda Kota atau tetap di Samarinda Seberang. Mohon diperhatikan, ” katanya.
Pun dengan SMA Negeri 5 Balikpapan dan SMA Negeri 2 Tenggarong, lanjut Sapto, juga memerlukan perhatian untuk penambahan ruangan belajar.
“Di SMA 5 Balikpapan ini membutuhkan ruang tambahan, yang ada sekarang ruangan labolatorium dijadikan ruang kelas. Juga SMA 12 Tenggarong. Jadi, pemenuhan itu jangan sepotong-sepotong, kalau misalnya tahun ini 2 sekolah ditambah, harus dilakukan sampai selesai, sehingga dia tidak bolak-balik ke situ lagi. Harusnya pemerataan minimal 50 persen, jangan 20 persen, ” tegasnya. (Nys/Adv/DPRDKaltim)
