Dok. Prokom Kukar
TENGGARONG – Upaya menjaga olahraga tradisional agar tidak kehilangan generasi penerus mendapat perhatian dalam Festival Olahraga Tradisional yang menjadi bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai Kartanegara (Kukar) 2026.
Tahun ini, penyelenggara tidak hanya mempertemukan peserta dari berbagai daerah, tetapi juga membuka kategori khusus anak-anak dari tingkat SD hingga SMP. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda sekaligus mendorong proses regenerasi atlet olahraga tradisional.
Festival yang berlangsung pada 21–26 September 2026 tersebut digelar di area parkir Pulau Kumala, Tenggarong, dan diikuti peserta dari Kukar, sejumlah kabupaten/kota di Kalimantan Timur, serta perwakilan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar, Aji Ali Husni, mengatakan terdapat empat cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan dalam festival tahun ini. Masing-masing yakni begasing, belogo, menyumpit, dan ketapel.
“Begasing diikuti 200 peserta, belogo 95 peserta, menyumpit 65 peserta, dan ketapel 52 peserta,” demikian laporan yang disampaikan dalam pembukaan kegiatan.
Kehadiran kategori anak-anak dinilai penting karena keberlangsungan olahraga tradisional tidak cukup hanya dengan menggelar pertandingan. Pengenalan sejak usia sekolah diperlukan agar permainan rakyat tersebut tetap memiliki peminat dan pelaku di masa mendatang.
Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono yang membuka festival tersebut menegaskan, olahraga tradisional dalam rangkaian Erau memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar kompetisi.
Saat membacakan sambutan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, Sunggono menyampaikan bahwa olahraga tradisional menjadi salah satu cara merawat ingatan budaya sekaligus menghidupkan kembali permainan rakyat di tengah generasi muda.
Menurutnya, sejumlah permainan seperti belogo, begasing, menyumpit, dan ketapel tradisional juga memiliki nilai pendidikan karakter. Aktivitas tersebut melatih ketangkasan, konsentrasi, keberanian, kesabaran, kerja sama, serta sportivitas.
Karena itu, keberlanjutan olahraga tradisional membutuhkan pembinaan yang dilakukan secara konsisten. Upaya tersebut antara lain melalui penyediaan ruang latihan, kaderisasi pelatih dan juri, dokumentasi aturan permainan, hingga penyelenggaraan kompetisi secara berjenjang.
Festival tahun ini juga mengambil tempat di Pulau Kumala. Pemilihan lokasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan olahraga, tetapi turut memadukan unsur budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui aktivitas UMKM di sekitar lokasi acara.
Dispora Kukar berharap festival tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mempraktikkan permainan tradisional. Dengan demikian, olahraga tradisional tidak berhenti sebagai bagian dari perayaan Erau, tetapi dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selain menjaga keberadaan permainan rakyat, penyelenggaraan festival secara berkelanjutan diharapkan semakin memperkuat posisi Erau sebagai salah satu agenda budaya unggulan dalam Kharisma Event Nusantara. (*)
